RSUD Bakti Pajajaran Cibinong Bogor Tangani Ratusan Kasus Cemas Dan Depresi Sepanjang 2025
Bogor.Mediasaber.com. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental kini semakin meningkat. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah pasien yang datang ke layanan psikologi di RSUD Bakti Pajajaran Cibinong, baik untuk dewasa maupun anak-anak. Psikolog RSUD, Niko Puri Diyanti, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa selama tahun 2025 tercatat 167 pasien dewasa dan 25 pasien anak telah mendapatkan layanan psikologis di poli Yankesrad Gedung Azalea.

Menurut Niko, pada awal pembentukan layanan psikologi tahun 2024, jumlah pasien masih terbatas karena hanya tersedia psikolog untuk pasien dewasa. “Tahun 2024 baru ada 46 pasien karena memang proses pembentukannya masih baru. Setelah psikolog anak bergabung di 2025, layanan kami semakin lengkap dan jumlah pasien pun meningkat,” jelasnya saat ditemui di RSUD, Rabu (12/11/2025).
Kasus terbanyak yang ditangani, lanjut Niko, adalah kecemasan (anxiety) dan depresi. Gejalanya bisa beragam, mulai dari sulit tidur, mudah marah, takut keluar rumah, hingga muncul rasa terancam tanpa sebab yang jelas. “Kalau gejala seperti ini tidak segera ditangani, bisa berkembang menjadi depresi, bahkan berujung pada gangguan yang lebih berat seperti skizofrenia,” ujarnya.
Untuk penanganan, Niko menekankan pentingnya pendekatan terapi perilaku seperti Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan Neuro Linguistic Programming (NLP). “Saya berikan latihan perilaku atau PR yang harus dilakukan pasien, seperti mengubah kebiasaan tertentu, menambah kegiatan positif, atau menghilangkan perilaku yang memperburuk kecemasannya. Semua dilakukan bertahap dari yang paling mudah,” ungkapnya.
Bagi pasien dengan depresi, terapi dilakukan secara bertahap selama 8 hingga 12 kali pertemuan, tergantung tingkat keparahan gejalanya. “Biasanya dua minggu pertama pasien bertemu dua kali seminggu, lalu berlanjut seminggu sekali hingga akhirnya kontrol bulanan. Setelah dievaluasi, terapi bisa dilanjutkan hingga enam bulan atau bahkan satu tahun tergantung kondisi pasien,” katanya.
Ia menambahkan, untuk pasien dengan depresi berat, peran keluarga sangat penting dalam proses pemulihan. “Pasien depresi perlu pendampingan dari orang terdekat yang bisa memantau 24 jam, apalagi bila sudah ada tanda-tanda menyakiti diri. Jadi keluarga harus dilibatkan dalam terapi dan diberi arahan tentang apa yang perlu dilakukan di rumah,” tutur Niko.
Sementara itu, untuk pasien anak, keluhan yang sering muncul di antaranya anak yang enggan sekolah, mudah marah, atau menunjukkan perilaku aneh. Selain itu, ada pula anak yang menjadi korban kekerasan, atau membutuhkan tes IQ, tes minat bakat, serta asesmen anak berkebutuhan khusus. “Kami bekerja sama dengan dokter anak dan rehab medik untuk menentukan terapi lanjutan sesuai kebutuhan anak,” jelasnya.
Sebagian besar pasien, kata Niko, datang atas inisiatif sendiri. Namun, ada juga yang merupakan rujukan dari dokter spesialis anak, psikiater, atau dokter saraf. “Masyarakat kini mulai paham bahwa ke psikolog bukan berarti gila, tapi bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental,” pungkasnya.
(Edison Sirait)

