oleh

Anak Sekolah Dan Para Pekerja Rela Nekat Turun Ke kali Demi Waktu Ambil Jalur Pintas Turun Ke Arus Sungai Tak Mau Antri Lama Jembatan Penyeberangan Pejalan Kaki Di Batasi hanya 10 Orang

Bogor.mediasaber.com. Pemandangan memilukan terungkap dari rekaman warga yang beredar luas di media sosial : ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan di wilayah sekitar Kali Cileungsi rela melintasi arus air sungai berjalan kaki di atas bebatuan licin dan aliran air dangkal demi sampai ke seberang.(16/7/26).

Langkah ini bukan bentuk kenakalan atau uji nyali semata, melainkan satu-satunya jalan keluar yang terpaksa diambil karena jembatan gantung sementara yang menjadi akses pengganti jembatan utama jalur provinsi, hanya mampu dilalui maksimal 10 orang sekaligus, sehingga antrean membludak hingga memakan waktu jam sekolah dan jam kerja kuatir terlambat mereka rela turun ke kali tuk berjalan kaki ke jalur pintas. Kamis (16/07/26)
‎ 
‎Jembatan utama yang menghubungkan Jalan Provinsi dengan wilayah Kecamatan Klapanunggal dan Kecamatan Gunung Putri kali Cileungsi dan sekitarnya saat ini sedang ditutup total untuk renovasi Jembatan Provinsi, untuk jembatan gantung pejalan kaki sederhana di sisi timur lokasi jembatan telah di buatkan namun struktur yang ringan itu memiliki batas kemampuan dan keamanan ketat tidak boleh dilalui lebih dari 10 orang pada satu waktu, dan setiap kelompok harus menunggu sampai semua penyeberang dan bergantian dari arah timur dan arah barat
‎ 
‎Setiap pagi mulai pukul 05.30 WIB hingga 07.00 WIB, antrean di kedua ujung jembatan membentang hingga ratusan meter. Siswa ( SD ) ( SMP ) ( SMA) hingga para pekerja buruh pabrik berdiri antri berdesakan menunggu giliran nyebrang sampai tujuan diperkirakan butuh waktu dan ada juga yang nekat sampai turun ke kali lebih dari satu jam bagi seorang siswa untuk hanya sekadar menyeberang sungai tersebut.


‎ 
Akibat menunggu waktu siswa mulai turun mengambil risiko lain mereka perlahan turun dari jalan setapak di pinggir tebing setinggi sekitar dua meter lalu melangkah satu per satu di atas bebatuan kali yang berlumut dan kadang terendam air setinggi mata kaki hingga lutut Beberapa siswa bahkan saling erat tangan
berpegangan agar tidak terpeleset, sementara yang lain mengimbangkan badan dengan tas yang tetap dibawa.

‎Ini bukan kenakalan bukan juga ingin cari sensasi Kami sudah coba antri sejak setengah jam yang lalu, tapi belum bergerak lima langkah Kalau terus begini pasti telat masuk kelas, apalagi sekarang masih masa MPLS ujar salah satu siswa SMP yang terlihat sedang nenteng sepatu.
‎ 
‎Warga sekitar membenarkan bahwa langkah berisiko itu murni dampak dari keterbatasan akses yang disediakan mereka tidak nakal mereka cuma tidak mau bolos atau dapat teguran karena telat. Bayangkan jembatan cuma muat sepuluh orang setiap penyeberangan butuh waktu dua menit lebih. Kalau ada 300 anak sekolah, berapa lama mereka harus menunggu?” ujar seorang warga yang setiap hari mengantar cucunya menyeberang kondisi bebatuan di kali Cileungsi
‎juga tidak menentu saat curah hujan tinggi di hulu arus sungai bisa deras dan bebatuan menjadi sangat licin.

Belum ada tanda peringatan penyangga keamanan maupun petugas yang berjaga di jalur penyeberangan bebatuan ini. Setiap hari nyawa siswa dipertaruhkan hanya demi mendapatkan hak pendidikan yang layak.

‎‎Renovasi Tanpa Jalan Keluar Alternatif

‎Renovasi jembatan utama yang menjadi urat nadi jalur provinsi ini diketahui sudah berlangsung berminggu-minggu. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi resmi mengenai kapan pekerjaan selesai alasan tidak disiapkan jembatan sementara yang lebih layak dan memadai kapasitasnya, maupun rencana pembukaan akses alternatif lain bagi warga dan pelajar.


‎ 
‎Warga berharap Pemerintah Daerah maupun pihak kontraktor segera bertindak : memperluas akses penyeberangan sementara, menambah jembatan pengganti kedua atau setidaknya menempatkan petugas pengatur lalu lintas dan keamanan di lokasi agar tidak ada lagi siswa yang terpaksa turun ke sungai.

Reporter : JY