Tragedi Di Jantung Kampus Pakuan : Sebuah Refleksi Kritis Atas Kesehatan Mental Mahasiswa
Bogor.mediasaber.com. Kabar duka sekaligus mengejutkan mengguncang lingkungan akademik Universitas Pakuan. Sekitar pukul 13:00 WIB, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), tempat kami menimba ilmu, menjadi saksi bisu sebuah tragedi memilukan.
Mahasiswi berinisal RS (meski kabar yang beredar menyebut mahasiswi dari Prodi Manajemen FEB), dilaporkan diduga melakukan upaya percobaan bunuh diri. Kabar ini seketika menyebar, menciptakan gelombang emosi yang campur aduk: kesedihan mendalam, ketakutan, dan kesadaran pahit akan kerapuhan jiwa di tengah tekanan hidup.
Setiap hari, kita terperangkap dalam tuntutan tak berujung. Kita dituntut untuk mengejar IPK tinggi, aktif dalam organisasi, membangun personal branding, dan selalu menunjukkan citra yang kuat dan kompeten. Namun, di balik senyum dan capaian itu, jarang sekali ada yang melontarkan pertanyaan esensial: “Apa kamu benar-benar baik-baik saja?”
Tragedi ini menjadi cermin betapa banyaknya dari kita yang menyembunyikan badai kecemasan, kelelahan, dan keraguan di balik topeng ketahanan. Kita semua sedang berjuang, dan bagi sebagian, perjuangan itu terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Peristiwa ini memaksa kita untuk merenung: yang paling kita butuhkan saat ini bukanlah sekadar nasihat motivasi, melainkan Ruang Aman (Safe Space) untuk didengar tanpa dihakimi. Dukungan tulus dari teman sebaya, bimbingan dosen, dan kebijakan proaktif dari pihak kampus adalah benteng pertahanan terakhir kita.
Kita wajib memulai budaya baru: Budaya Kepedulian. Biasakanlah menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, ulurkan tangan untuk menemani teman yang menarik diri atau murung, atau sekadar duduk bersama dalam keheningan yang suportif.
Dari tragedi yang terjadi di FEB ini, ada satu pelajaran krusial yang harus kita tanamkan: Kesehatan Mental Bukanlah Isu Sepele, melainkan Prioritas Utama. Setiap individu memiliki batas toleransi; oleh karena itu, meminta pertolongan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan tindakan keberanian terbesar untuk memilih bertahan dan bangkit.
Semoga Universitas Pakuan tidak hanya menjadi lembaga pencetak sarjana-sarjana cerdas, tetapi juga komunitas yang mampu melahirkan manusia-manusia yang saling memahami, menguatkan, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan empati.
Kepedulian Kita adalah Pertolongan Pertama Terbaik.
Penulis : Muhamad Nurwaid Rompone Mahasiswa semester awal

